Buku tamu    |    Kontak
 
 
     
Think Wisdom

Menjadi Entitas Berkelanjutan

Pada tanggal 20 Januari 1982, Presiden Soeharto meresmikan operasi tahap pertama Pabrik Peleburan Aluminium (PPA) di Kuala Tanjung. Selanjutnya pada tahun 1984, Presiden Soeharto juga meresmikan tahap akhir Proyek Asahan. Dalam kesempatan peresmian Proyek Asahan, Presiden Soeharto mengatakan bahwa Proyek Asahan, sebagai ”impian yang menjadi kenyataan” serta menyatakan harapan-harapan bangsa Indonesia atas Proyek tersebut.

Pada INALUM melekat harapan terwujud kesejahteraan regional, daya saing industri nasional dan daya saing internasional Indonesia.

Membangunan Kemitraan dan Daya Dukung Regional

Komponen daya dukung sosial ekonomi dan ekologi terhadap keberlangsungan Proyek Asahan dan Operasi Inalum saat ini berdomain di wilayah administrasi 10 Kabupaten/Kota di Sumatera Utara, yaitu Kabupaten Dairi, Kabupaten Karo, Kabupaten Samosir, Kabupaten Taobasa, Kabupaten Simalungum, Kabbupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan,Kabupaten Asahan, Kota Tanjung Balai dan Kabupaten Batubara.

Membangun daya dukung regional bagi INALUM dilaksanakan koordinasi intensif berkelanjutan, melalui pendekatan ekosistem memerlukan yang multidisiplin serta kerjasama seluruh pihak. Program dilaksanakan bersama Pemerintah Kabupaten di sekitar kawasan Proyek Asahan melibatkan Pemerintah Daerah setempat dan masyarakat.

Daya Dukung Ekosistem Kawasan Danau Toba

Luas Kawasan Danau Toba 369.854 ha, dengan luas daratan 259.594 ha, dan luas danau sendiri 110.260 ha, serta Pulau Samosir 69.280 ha. PLTA yang memiliki kapasitas terpasang 604 MW dan DAS Sungai Asahan memiliki potensi total sekitar 1.000 MW, sangat tergantung pada daya dukung ekologi Kawasan Danau Toba dan Sub Das Hulu Sungai Asahan. Luasan daerah tangkapan air (basin) bagi 3 Bendungan PLTA mencapai 370.000 ha atau 370 km2. Kawasan Danau Toba termasuk Kawasan Strategis Nasional.

Upaya Kolaboratif

Sebagai entitas korporasi menjaga daya dukung sosial, ekonomi dan ekologi terhadap keberlanjutan INALUM tidak dapat dilaksanakan oleh INALUM sendiri. Keberhasilan pengelolaan daya dukung tadi hanya akan berdaya guna dan berhasil guna, jika dilakukan secara bersama-sama dan dengan mendefinisikan dan mengintegrasikan beberadaan faktor-faktor ekologi, ekonomi dan sosial di wilayah para Pemangku Amanah secara ekologis, bukan berdasarkan batas-batas administratif, sektor dan kewilayahan semata.

Dalam pengelolaan daya dukung sosial, ekonomi dan ekologi diatas, INALUM bekerjasama dengan lembaga terkait sesuai dengan Master Agreement 1975 dan Keppres No. 5 Tahun 1976.

Nippon Asahan Aluminium Co. Ltd (NAA)

Berdasarkan Master Agreement antara Pemerintah Indonesia dengan 12 investor Jepang yang ditandatangani pada tanggal 7 Juli 1975 di Tokyo, Jepang, pada bulan November 1975 dua belas perusahaan Jepang tersebut membentuk sebuah konsorsium dengan nama Nippon Asahan Aluminium Co. Ltd. (NAA).

Otorita Asahan

Sebagai bagian dari pelaksanaan Master Agreement, pada tanggal 22 Januari 1976 Pemerintah Indonesia menerbitkan KEPPRES No. 5 Tahun 1976 tentang Pembentukan Otorita Pengembangan serta Badan Pembina Pusat Listrik Tenaga Air dan Peleburan Aluminium Asahan ”Otorita Asahan”.

Otorita Asahan dibentuk dalam rangka pencapaian tujuan Proyek Asahan, guna menfasilitasi dan memastikan implementasi dari Master Agreement , menjaga kepentingan Pemerintah RI dan INALUM, serta menjaga kerjasama, koordinasi antara Pemerintah RI dengan INALUM untuk mencapai tujuan dari Master Agreement.

 

OTORITA ASAHAN

Otorita Asahan Republik Indonesia @2008
Jl. Gatot Subroto Kav. 8 no. 67, Telp. (021) 5252466, Fax. (021) 5251763